Melihat Pentingnya Asuransi bagi Masa Depan Keuangan Anda
Membayar premi asuransi menambah beban keuangan. Ya, banyak orang berpendapat demikian. Tapi, pertanyaannya, apa memang benar begitu?
Seandainya kita dianugerahi kemampuan bisa melihat apa yang akan terjadi di kehidupan pada masa depan, pendapat di atas seratus persen benar. Sebab, kita bisa menghindarkan sesuatu yang buruk yang dapat menimpa. Terutama dua hal yang paling bernilai: nyawa dan kesehatan kita.
Sayangnya, tak ada seorang pun yang dapat memprediksi musibah. Dan yang lebih mengesalkan, musibah sudah pasti akan mempengaruhi rencana keuangan kita, bahkan bisa memporak-porandakannya!
Itulah alasan kuat bagi kita untuk memiliki asuransi. Pada hakikatnya, kerugian yang diakibatkan oleh musibah tak perlu kita tanggung sendirian.
Risiko Anda yang Dilindungi Asuransi
Tak dapat dimungkiri, Indonesia masih belum bisa dikatakan terbebas dari ancaman keamanan. Terutama di kota-kota besar, tingkat kriminalitas masih tinggi. Tapi, sekalipun Indonesia disebut sebagai negara teraman di dunia, musibah tetap bisa datang tanpa kira-kira dan tanpa pandang bulu.
Kita gak tahu musibah apa yang akan menimpa kita. Gak ada salahnya untuk berjaga-jaga (kriminalitas/Detik)
Berikut ini sejumlah risiko mahal yang mengancam kita semua:
1. Kecelakaan di jalan
2. Mengalami masalah kesehatan akut
3. Tak bisa bekerja karena cacat permanen
4. Kehilangan harta (karena pencurian, kebakaran, dan lain-lain)
5. Kehilangan pendapatan karena efisiensi perusahaan
6. Kecelakaan di tempat kerja atau di rumah
7. Menjadi korban penipuan bisnis atau kartu kredit
8. Dan seterusnya
Tak terbayangkan betapa banyak risiko yang bisa menggoyang kondisi finansial kita. Risiko itu mengancam siapa pun kita, entah pebisnis, buruh, ketua RT, bahkan presiden sekalipun.
Perusahaan asuransi akan menilai risiko yang mengancam serta jaminan penggantian dari pekerjaan Anda. Orang yang bekerja di lepas pantai tentu lebih berisiko daripada pekerja kantoran. Semakin tinggi risiko, semakin besar jaminan penggantian jika terjadi musibah.
Perlindungan terhadap Risiko vs Premi Asuransi
Semakin besar risiko yang dipertanggungkan, semakin besar pula premi asuransi yang harus dibayar. Maka itu, jangan berpikir bahwa Anda bisa menjadi peserta asuransi mana saja, yang penting preminya termurah.
Jika Anda adalah tulang punggung keluarga, tentunya risiko hidup Anda lebih besar. Karena itulah kita tak bisa hanya “pokoknya sudah ikut asuransi” dengan membayar premi termurah. Yang lebih penting adalah ketepatan program asuransi itu dengan kebutuhan kita.
Misalnya Anda berusia 30 tahun, berkeluarga, dan membayar premi asuransi Rp 500.000 per bulan. Jika suatu ketika mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cacat permanen, Anda mungkin berharap dulunya menambah nominal premi karena saat ini hanya mendapat penggantian Rp 200.000.000 akibat kecelakaan itu.
Dengan membayar premi, misalnya, Rp 1.000.000 per bulan, Anda bisa mendapatkan penggantian hingga empat kali lipat. Bayangkan manfaatnya bagi Anda dan keluarga.
Hitung berapa besar biaya pertanggungan yang kamu dapat lewat pembayaran premi. (ilustrasi resiko/Verotech Solution)
Contoh kasus kecelakaan di atas bukan rekayasa, melainkan nyata terjadi di kehidupan sekitar kita. Gara-gara pelit bayar premi, kemudian berujung gagalnya rencana membeli rumah atau kesulitan menyekolahkan anak.
Tak hanya soal kesehatan maupun nyawa. Risiko kehilangan harta benda juga banyak kasusnya. Saking pelit bayar premi, mobil hilang tidak ada yang ikut mengganti karena tidak ada asuransi. Alhasil, tekor untuk beli mobil lagi. Ini akan berbeda jika kita sudah mengikuti program asuransi.
Pelit premi datangnya dari mindset yang merasa asuransi itu hanya sekedar pengeluaran lebih yang dapat ‘dihemat’. Bahkan, tak jarang pula orang berasumsi, “bayar asuransi itu sama halnya dengan mengundang musibah itu sendiri.”
Apakah Asuransimu Sudah Cukup?
Dengan contoh-contoh kasus di atas, jangan lagi pelit premi. Atau mungkin sudah merasa cukup dengan terdaftar sebagai peserta program Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS) kesehatan atau ketenagakerjaan?
Perusahaan tempat Anda bekerja pun barangkali sudah punya program asuransi karyawan. Program-program asuransi tersebut bisa jadi telah memberikan sejumlah proteksi, tapi terbatas dalam menyediakan keamanan finansial bagi Anda dan keluarga. Apalagi kondisi moneter Indonesia masih sangat dipengaruhi negara lain, sehingga harga-harga bahan pokok sering tak menentu.
Sudah saatnya Anda pertimbangkan kembali mengenai asuransi. Coba bikin simulasi seperti contoh kasus di atas. Seberapa besar risiko yang Anda miliki dan seberapa banyak Anda sanggup menanggung risiko tersebut sendirian?
Sudah saatnya Anda menanggalkan pikiran umum bahwa asuransi berarti membayar sesuatu yang tidak diperlukan. Salah besar jika Anda berpikir bahwa asuransi hanya menambah pengeluaran Anda.
Asuransi gak bikin kantong bolong. Justru hal ini sama saja dengan nabung namun peruntukannya memang beda (gak ada duit/Shutterstock)
Sebab, sekali lagi, kita semua menanggung risiko yang tak bisa kita prediksi kapan datangnya. Asuransi membantu meminimalkan risiko itu, sehingga masa depan keuangan Anda dan keluarga lebih terjamin. Yang diperlukan kemudian adalah mengatur pos-pos pengeluaran agar tak jebol.
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Daripada terbelit masalah keuangan setelah tertimpa musibah karena tak punya asuransi, lebih baik kita mencegah masalah itu.
Sertakan Budget Asuransi Saat Menyusun Anggaran Rumah Tangga
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa suami istri harus memiliki manajemen keuangan yang disepakati bersama. Yang sering terjadi adalah banyak rumah tangga yang melupakan alokasi budget asuransi.
Biasanya suami istri tuh fokus ke bayar cicilan, bayar utang, pengeluaran buat kebutuhan sehari-hari dan liburan. Padahal alokasi budget untuk asuransi penting loh!
Menyusun anggaran keuangan rumah tangga sangat penting. Yaitu untuk memastikan suami istri tetap memegang kendali keuangan bersama. Gak mau kan kalau gaji hanya numpang lewat, karena gak ada kontrol.
Kesalahan yang banyak orang lakukan adalah gak memiliki perlindungan, baik perlindungan jiwa maupun kesehatan. Memang sih saat ini Pemerintah Indonesia sudah memiliki program jaminan kesehatan yang lebih baik yaitu BPJS Kesehatan.
Kita sebagai warga negara Indonesia bisa membeli dan ikut serta dalam program BPJS Kesehatan. Jika belum memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, segera beli ya.
Proteksi kesehatan dan jiwa adalah proteksi yang penting dan perlu dimiliki oleh kita dan pasangan. Apalagi jika sama-sama bekerja dan menghasilkan pemasukan. Asuransi jiwa wajib loh untuk kita dan pasangan. Belilah asuransi yang melengkapi manfaat kesehatan yang sudah diberikan oleh kantor.
Mungkin masih ada yang bertanya, apakah asuransi kesehatan dan jiwa sepenting itu? Iya dong. Kita gak boleh meremehkan yang namanya proteksi atau perlindungan.
Proteksi memegang peranan penting, karena kita gak lepas dari risiko. Baik itu risiko sakit atau kematian. Tapi paling gak kita bisa mengelola risikonya.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan agar kita dapat hidup tetap sehat, seperti menjaga pola hidup, asupan makanan, olahraga, hindari stres dan lainnya. Siapa sih yang mau sakit? Tapi selalu sehat juga kayaknya gak mungkin karena tubuh ada saat lemahnya.
Jangan sampai gara-gara sakit, kita terpaksa menguras tabungan atau menjual investasi. Oleh sebab itu asuransi kesehatan akan sangat menolong saat dibutuhkan.
Bagaimana dengan risiko kematian? Jika kita sudah beli asuransi jiwa, apakah kita terhindar dari kematian? Jawabannya tidak. Karena, asuransi jiwa gak menghindarkan kita dari kematian.
Asuransi jiwa memberikan perlindungan atas nilai ekonomi hidup manusia (economic value of human life). Artinya kita sudah mencegah kerugian-kerugian finansial (atau masalah finansial) jika tulang punggung keluarga meninggal.
Siapa yang tahu kapan waktu kita di dunia habis ya (Kedukaan / oketekno)
Apa sih contoh masalah finansial yang harus dihadapi keluarga jika pencari nafkah utama meninggal dunia? Semisal, istri dan keluarga yang ditinggal butuh pemasukan. Jika Istri harus bekerja, butuh waktu beberapa bulan untuk melamar pekerjaan atau memulai usaha.
Contoh lain, pendidikan anak harus terus berjalan setidaknya sampai lulus kuliah.
Masalah finansial lain termasuk melunasi utang-utang yang ada, agar gak mewariskan utang kepada keluarga yang ditinggalkan.
Saat seseorang membeli asuransi jiwa, orang tersebut membeli ketenangan. Setidaknya orang tersebut terlepas dari beban pikiran finansial jika terjadi sesuatu dengan dirinya.
Tentu saja kita harus melakukan perhitungan uang pertanggungan yang benar-benar cermat, Jangan sampai kita melakukan kesalahan pada saat membeli asuransi jiwa.
Ketika memutuskan untuk membeli asuransi jiwa dan kesehatan, kenali dulu kebutuhan kita. Setelah itu hitung jumlah uang pertanggungan (UP) yang dibutuhkan.
Perhitungan itu penting bro, daripada buntung! (Kalkulasi / freshome)
Cari produk asuransi jiwa dari beberapa perusahaan yang memiliki perlindungan sesuai kebutuhan kita dan sesuai budget sebagai perbandingan. Dengan cara ini, kita sudah terproteksi dan tenang secara keuangan.